08 Januari 2010

Tayangan televisi yang tepat untuk anak

Perlu ayah dan bunda ketahui, saat ini banyak film yang ditujukan untuk anak-anak namun ternyata cerita maupun pesan yang terkandung didalamnya tidak layak disebut sebagai tontonan anak-anak. Salah satunya adalah fim kartun.

Menurut Kidia, (Kritis Media untuk Anak), terdapat sebanyak 84% film kartun anak mendominasi siaran televisi di Indonesia. Namun, berdasarkan hasil pemantauan, menunjukkan banyak film kartun yang sebenarnya tidak layak dikosumsi anak usia sekolah dasar, apalagi prasekolah.

Apakah ayah dan bunda tahu? Tayangan televisi mempengaruhi perkembangan kecerdasan, kemampuan berpikir dan imajinasi anak yang disebabkan kehadiran dua stimulus terus-menerus melalui bunyi dan gambar yang terus bergerak. Hal tersebut mengakibatkan kemampuan anak untuk berkonsentrasi jadi pendek, yaitu hanya antara dua hingga tujuh menit.

Dampak negatif tayangan televisi lainnya adalah berkurangnya aktivitas fisik sehingga anak menjadi kurang terampil, kurang aktivitas, misalnya bermain, kurang sosialisasi dan komunikasi. Pada akhirnya, keterampilan emosi dan sosial anak tidak terlatih. Anak jadi malas dan kurang termotivasi untuk belajar.

Dampak tayangan TV yang lebih buruk terhadap anak adalah meningkatnya agresivitas dan kekerasan dan kematangan seksual secara lebih cepat. Salah satu cntohnya, pernahkah ayah bunda melihat atau membaca berita mengenai anak usia 4 tahun yang meloncat keluar jendela lantai 2 rumahnya dan ia tewas. Hal tersebut ternyata dipengaruhi tayangan film kartun, dimana tokoh didalamnya tidak akan terluka walaupun dipukul, terlindas mobil ataupun jatuh dari ketinggian.

Anak seusia mereka, belum dapat membedakan antara hal yang tidak nyata dengan hal yang sesuai dengan kenyataan. Oleh sebab itu, ayah dan bunda sebagai orang yang paling banyak menghabiskan waktu bersama anak, sebaiknya lebih memperhatikan dan memilah tayangan televisi yang ditonton oleh anak.

Sumber: Buletin PAUD ANAK CERIA UNAIR Volume III Tahun III

Solusi Untuk Anak Yang Lengket Dengan Orangtuanya

Apakah anak Anda lengket dengan Anda dan tidak pernah mau melalukan sesuatu tanpa bantuan Anda? Anak usia balita biasanya sering seperti ini. Mereka seringkali lengket dengan mamanya atau papanya. Mungkin Anda menganggapnya biasa, namun jika sudah berlebihan, Anda perlu tahu apa yang membuatnya takut melakukan sesuatu sendiri atau dengan bantuan orang lain.

Anak yang terus-menerus menempel pada orangtuanya biasanya karena mereka mencari perhatian yang berlebihan atau memanipulasi, atau sebab yang lain adalah mereka benar-benar ketakutan. Anak usia balita biasanya mengalami hal ini karena mereka sedang dalam masa belajar berbagai ketrampilan baru dan menakutkan, mereka masuk lingkungan sekolah yang baru bagi mereka atau karena mereka merasa sakit.

Untuk menangani anak yang menempel Anda karena mencari perhatian lebih dari Anda, atau alasan manipulatif, bicaralah dengannya agar memberi kesempatan pada Anda untuk melakukan hal lain.

Buatlah diri Anda sejajar dengannya, tatap matanya dan katakan, “Nak, ibu akan cuci piring sekarang. Kamu duduk di sini dengan tenang sementara ibu mencuci piring ya..”

Jangan berteriak padanya, menjerit atau mengomel, hal itu mungkin mereka anggap sebagai perhatian namun dalam bentuk negatif.

Jika dia terus memegang kaki Anda seperti jangkar atau meminta di gendong terus-menerus, katakan dengan tegas bahwa dia harus melepaskan Anda dan dia tetap akan baik-baik saja walaupun tidak menempel pada Anda.

Tetapi jika anak Anda menempel pada Anda karena ketakutan, ketidakamanan atau kesakitan, maka dia benar-benar membutuhkan Anda.

Sebagai solusinya, buat anak Anda merasa aman. Jangan pernah menakut-nakuti dia. Katakan padanya bahwa Anda yakin dia bisa menjadi anak yang mandiri.

Untuk membangun kemandirian anak Anda, jangan membantu dia jika dia bisa melakukannya sendiri. Sebagai contoh, jika dia sudah dapat memegang sendok sendiri, mulai ajarkan untuk makan sendiri. Jangan terus disuapi. Jika buah hati Anda melakukan sesuatu sendiri dengan baik, beri dia penghargaan. Puji anak Anda karena bisa memakai sepatu sendiri. Hargai dia karena dia bisa merapikan mainannya. Berikanlah perhatian pada anak Anda pada porsi yang benar, jangan berlebihan sehingga dia belajar untuk memanipulasi orangtuanya.

Sumber : Raising Independent Children; Elisa Medhus,M.D; BIP